Senin, 29 Agustus 2016

Slime - Prolog

(TL Note : salam semuanya... ini adalah TL-an pertama ane... juga ngerjain sendiri... jadi klo ada salah arti atau typo maklumi aja ya...)


Prolog – Kematian & Reinkarnasi


Kehidupan yang normal sampai tidak bisa bilang apa-apa.
Setelah meninggalkan perguruan tinggi, aku bergabung dengan sebuah perusahaan dan sekarang hidup sendiri di usia 37. Tanpa pacar.
Orang tuaku diurus oleh saudara pria ku, pada dasarnya hidupku itu independen, seorang diri.
Tidak pendek atau tinggi, atau ingin wajah yang tampan. Tidak populer. Aku sudah berusaha untuk mencari pacar – dan sudah menembak 3 kali! – tapi setelah ditolak melulu, hatiku hancur berantakan. Nah, setelah berumur begini, aku bisa bilang kalau hal asmara itu hanyalah sia-sia, tapi merepotkan.
Dan toh kau bisa bilang kalau aku ini sibuk bekerja, bukan berarti aku terganggu karena gak punya. Ini bukannya aku coba mengelak ya…beneran.

[Senpai! Maaf sudah menunggu!]

Dengan senyum ceria pria muda itu mendekatiku. Dan di sisinya – wanita cantik.
Lebih tepatnya, pria muda ini, Tamura, adalah juniorku di tempat kerja; yang ada di sebelahnya adalah yang terkenal di perusahaan kami sebagai wanita idaman, resepsionis Sawatari-san. Yap, aku diundang mereka karena mau minta konsultasi tentang pernikahan mereka nanti. Dan ngomong-ngomong, ini adalah alasan kenapa aku heran dengan ketidak populeranku. Pertemuan kami ini ada di persimpangan, dan disini ada dua orang yang berharap akan perhatian dan dukungan.

[Ya. Jadi, bantuan yang gimana yang mau kalian cari?]

Aku bertanya sambil menyapa Sawatari-san.

[Halo, senang bertemu dengan anda. Nama saya adalah Sawatari Miho. Walau kita sudah pernah jumpa satu sama lain, ini pertama kalinya kita berbicara, kan? Entah kenapa, aku jadi gugup.]

Yang gugup disini aku, sialan! Maksudku, aku sama sekali enggak biasa bicara sama cewe. Jangan macem-macem woi! Dengan kata-kata itu, aku protes dalam hati.

[Halo, aku Mikami Satoru. Gak perlu gugup kayak gitu. Sawatari-san terkenal dikalangan kita-kita, jadi aku udah tahu walau gak perlu perkenalan diri. Kalau tentang Tamura – kami pernah satu universitas, kau tahu, jadi kami sering ngobrol bareng. Setelah itu kita juga kumpul-kumpul dikit kok.]
[Apa maksudnya dengan terkenal? Apa ada isu-isu aneh bertebaran ya?]
[Ya. Seperti punya hubungan gelap dengan ketua-X, atau berkencan dengan Y-kun – yang kayak gitulah.]

Tentu saja, itu semua cuma untuk menggodanya saja. Dan walau aku berniat untuk sekedar bercanda saja, wajah Sawatari-san berubah merah padam dan memandangku dengan mata berair. Benci mengakuinya, tapi dia terlihat imut.
Yaa, bercanda memang agak kelewatan, dan aku sering disuruh tutup mulut... tapi tetap saja aku selalu mengatakannya.
Yap, gagal lagi, ya? Yap, aku cuma gak cocok dengan wanita.
Dan seperti sudah menebak, Tamura, menepuk bahu Sawatari-san.
Sialan, dasar Tamura sialan! Di situasi seperti inilah dimana kalian para *riajuu harus meledak! Aku harus meneriakkan ini, kan?

*TL note : 'orang normal yang punya pacar terus mesra-mesraan gitu'
*Utusan kelas F : RIAJUU MELEDAK AJA!!!!!!!!!!! hiks* hiks*

[Senpai, tolong jangan berlebihan! Dan, Miho, kamu cuma dikerjain aja kok!]

Sambil tertawa Tamura terus menenangkan situasi. Bukannya kau cuma cari perhatian, junior!
Riang, ceria, dan tanpa sindirang sedikit pun. Bukankah dia pria yang romantis...
Tamura baru berumur 28. Dan walaupun usia kami beda jauh, kami punya persamaan. Yaa, tidak ada hubungannya sih dengan memberikan mereka berkahku...

[Maaf. Aku hanya tidak terbiasa dengan wanita. Dan, yaa, lokasinya juga gak banyak membantu, ya kan? Mari kita cari tempat makan dulu lalu bicara disana.]

Itu cuma cemburu, lagian. Dan ketika aku berpikir begitu...

[[[Kyaaaaaaaaaa!]]]

Teriakan. Kepanikan.
Apa? Apa yang terjadi?

[Minggir! atau kubunuh kalian!]

Beralih ke sumber suara, pria mengacungkan pisau dan memegang tas lari kearah kami.
Aku mendengan teriakan. Aku melihat seorang pria. Aku melihat sebuah pisau. Diarahkan kemana? Di....

[Tamuraaa!]

*Don* Aku mendorong Tamura dari posisinya.

*Dosu* Aku merasakan rasa sakit yang membakar di punggungku.

[Tch, ngalangin aja!]

Meneriakkan itu, aku melihat pria itu melarikan diri dan melihat Tamura dan Sawatari-san untuk memastikan mereka aman.
Sambil berteriak yang tidak membentuk sebuah kata, Tamura berlari kearahku.
Sawatari-san terpaku dengan kejadian yang baru saja terjadi, tapi tidak terlihat terluka sedikit pun... syukurlah.
Kesampingkan itu, punggungku serasa terbakar. Bukannya rasa sakit, hanya rasa terbakar.
Apa-apaan ini? Ini terlalu panas... tidak bisakah dingin sedikit?

<<Dikonfirmasi. Membentuk daya tahan panas. Berhasil>>

Apa jangan-jangan... aku ditusuk?
Tidak boleh mati dari luka tusukan ini...

<<Dikonfirmasi. Membentuk daya tahan tusukan. Berhasil. Tambahan, membentuk daya tahan fisik. Berhasil>>

[Senpai... ada darah yang keluar... tidak berhenti... ini tidak...]

Apa-apaan pria brisik ini. Rasanya seperti suaranya terdengar aneh barusan; yaa, itulah yang diharapkan dari Tamura.
Tapi darah? Ya, darahnya dengan jelas mengalir. Aku manusia, lagian. Kalau ditusuk, ya berdarah!
Tapi sakit itu gak nyaman, kan...

<<Dikonfirmasi. Menghilangkan indra perasa sakit. Berhasil>>

Nah... ini buruk, kan? Sakit dan panik mengacaukan indraku.

[Ta... Tamura... kau dasar berisik. Ini... bukan masalah besar, kan? Berhentilah kawatir...]

[Senpai... darahnya... kau...]

Wajahnya biru, diambang air mata, Tamura terus memegangku. Wajah itu menghancurkan ketampanan seorang pria.
Aku mencoba melihat bagaimana keadaan Sawatari-san, tapi penglihatanku terlalu buram. Aku tidak bisa melihat.
Rasa terbakar di punggungku sudah hilang. Malahan, rasa dingin yang ganas menyerangku.
Ini benar-benar buruk... ketika seseorang tidak memiliki cukup darah, mereka mati, kan?

<<Dikonfirmasi. Membentuk tubuh yang tidak memerlukan darah. Berhasil>>

(Hey, kau, Apa-apaan yang dari tadi kau katakan...)
Aku mencoba berbicara, tapi kata-kata tidak keluar. Ini buruk, mungkin aku akan benar-benar mati...
Tapi, hei, aku tidak merasa sakit atau rasa terbakar.
Tapi ini sangat dingin, Sangat dingin, dan tidak ada yang bisa lakukan tentang ini. Apa ini... aku terlalu sibuk untuk orang yang beku dari rasa dingin ini.

<<Dikonfirmasi. Membentuk daya tahan dingin. Berhasil. Tambahan, daya tahan panas telah berhasil berubah menjadi daya tahan fluktuasi termal EX>>

Waktu itu, sel otakku yang mati, dengan sekilas inspirasi, telah mengingat hal yang sangat penting!
Ya! Isi harddisk PC-ku.

[Tamuraa!! Jika dan hanya jika, aku ini, aku mati... tolong urus PC-ku. Aku mohon padamu... rendam didalam air, lalu hidupkan, dan hapus bersih semua datanya...]

Dengan itu aku, yang telah menggunakan segenap sisa tenagaku, telah menyampaikan hal yang paling penting.

<<Dikonfirmasi. Mencoba format penuh semua informasi. Gagal, tidak bisa dilakukan karena kurangnya definisi. Mencoba penafsiran alternatif. Membentuk daya tahan elektrik. Berhasil. Tambahan, daya tahan paralysis telah didapatkan>>

Aku tidak tahu jelas apa yang dikatakan Tamura waktu itu, sambil menatapku dengan tatapan kosong.
Tapi, aku mengerti maksud dari apa yang dia katakan.

[Haha... itu memang Senpai banget...]

Katanya dengan senyum pahit. Siapa juga yang mau lihat wajah pria yang menangis? Senyum itu justru lebih baik.

[Kau tahu, aku... tentang Sawatari, aku cuma ingin pamer kepada senpai...]

Heh, aku sudah tahu itu... dasar sialan.

[Tch... ya ampun. Aku sudah memaafkan semua itu, jadi pacarmu, buatlah dia bahagia, mengerti? Dan tolong urus PC-ku...]

Sisa tenaga terakhirku, hanya cukup untuk mengatakan semua itu.
Dengan ketidakpuasan, Mikami Satoru mati.
Dan di waktu itu juga, jiwa Mikami Satoru dihubungkan dengan monster yang terlahir di dunia lain.
Dalam retakan dimensi yang begitu kecil dimana mata tidak bisa melihat. Jiwanya dihubungkan dengan banyaknya energi jahat.
Semua ini adalah asal-usul dari iblis, dan bagi Mikami Satoru yang sudah dihubungkan, pikiran yang menjadi pusat, energi yang membentuk tubuh.
Apa yang pada dasarnya adalah semuah kemustahilan dengan kesempatan yang sangat kecil sekali terjadinya, Mikami Satoru terlahir kembali sebagai monster di dunia lain.

Kehidupan yang normal sampai tidak bisa bilang apa-apa.
Setelah meninggalkan perguruan tinggi, aku bergabung dengan sebuah perusahaan dan sekarang hidup sendiri di usia 37. Tanpa pacar.
Orang tuaku diurus oleh saudara pria ku, pada dasarnya hidupku itu independen, seorang diri.
Dengan demikian, seorang perjaka.
Tidak dipercaya, meninggalkan dunia tanpa pernah menggunakannya... 'anak'-ku pasti sedang menangis sekarang.
Maaf ya, aku tidak pernah membuatmu menjadi dewasa...
Ketika aku terlahir kembali, kita akan mengubah semuanya. Kita akan menyerang dengan 'bang'. Panggil mereka, dan kita akan menelan semuanya... Tapi itu tidak bagus, ya?

<<Dikonfirmasi. Skill unik [Predator] telah didapatkan>>

Dan nah, di usia hampir 40 tahun, aku yang perjaka selama 30 tahun ini, dalam dunia sihir pasti akan menjadi pertapa... apaan tu, menjadi pertapa agung*  tidak perlu dipertanyakan lagi, ya kan?

<<Dikonfirmasi. Skill tambahan [Sage] telah didapatkan. Tambahan, skill tambahan [Sage] berhasil berevolusi menjadi skill unik [Great Sage]>>

*skill tetap pake english, kalo pake indo rasanya kurang aja*
*Sage = pertapa*
*Great Sage = pertapa agung*
*hayo siapa disini yang udah jadi pertapa???*

.... apa-apaan dari tadi yang kau katakan? Persetan dengan [Great Sage]! Apa kau mengejekku?
Itu bahkan tidak unik sedikit pun!
Aku tidak tertawa disini!
Tidak sopan...

Sambil berpikir itu, aku tertidur.
(Jadi ini yang namanya mati, ya... tidak begitu sepi seperti yang aku pikirkan.)
Dan itulah, untuk Mikami Satoru, kata-kata terakhir yang diucapkannya di dunia ini.


0 komentar:

Posting Komentar