Kamis, 29 September 2016

Slime - Chapter 11 - Monster yang Berevolusi

(TL Note : Yay... ane seneng bisa selesai cepat hari ini... waii... waii..
di chap ini episode evolusi... kayak pokemon aja yee... hahaha
 yaudah langsung aja... pika-... maksud ane... chap 11 nya.)


Chapter 11 - Monster yang Berevolusi



Para serigala tidak menunjukkan keinginan untuk bergerak.
Ini bisa buruk...
Apa mereka berencana menyerbu diriku dengan lolongan seperti "Mati lebih baik dari pada perbudakan!"?
Kalau begitu malah akan menjadi perang habis-habisan.
Mereka tidak punya kesempatan untuk menang, tapi kami juga tidak bisa keluar tanpa tergores.
Berhasil sejauh ini tanpa terluka... kami pasti menang, tapi aku lebih memilih untuk menghindari pertarungan lebih lanjut.

Dibandingkan suara yang tadi, suasana diam yang ngeri memenuhi medan tempur.
Para fang wolf memfokuskan semua pandangannya kepadaku.
Aku perlahan mulai bergerak.
Aku tidak tahu bagaimana mereka merespon kepada apa yang akan kulakukan, tapi setidaknya ini dibutuhkan bagi mereka untuk mengakui kematian pemimpin mereka.
Aku mendekati mayat si pemimpin. Tidak ada yang mencoba menghentikanku.
Serigala terdekat mengambil langkah mundur.
Lalu, aku memangsa si pemimpin menggunakan [Predator].
Sejauh itu adalah hak bagi pemenang.

<<Analisa telah diselesaikan.
Kemampuan untuk meniru Fang Wolf telah didapatkan.
Skill khusus-spesies [Supreme Sense of Smell, Telepathic Communication, Coercion] telah didapatkan>>
(TLN : [Indra Penciuman Tertinggi, Komunikasi Telepati, Paksaan?], satu lagi. Mungkin kedepan nanti beberapa nama skill akan berubah, jadi biasakan diri aja ya.)

[Great Sage] melaporkannya dalam pikiranku.
Oke.
Mereka ini... padahal mereka baru saja melihat pemimpinnya dimakan, tapi mereka tidak bergerak sedikit pun.
Hmmm.
Kupikir mereka akan melarikan diri karena panik atau bersujud ketakutan jika aku bertindak sejauh ini...
Oh, iya! Aku tadi bilang Perbudakan atau Mati...
Sialan... adrenalin menyerbu kepalaku, dan inilah hasilnya.
Toh, hanya satu hal yang harus dilakukan. Kurasa aku akan memberi mereka jalan keluar.
Dengan pikiran itu, aku meniru Fang Wolf.
Dan,

*Guru, Uoooooooooon!!!*

Sambil mengaktifkan [Coercion], aku melolong.
(TLN : Paksaan, klo lupa sama artinya.)

「Kukuku! Dengarkan aku! Aku akan membiarkan kalian pergi untuk kali ini. Mereka yang tidak patuh, pergi sekarang!!!」

Begitulah aku nyatakan kepada para serigala.
Dengan ini, bahkan anjing-anjing ini pasti punya keberanian untuk lari.
Atau begitulah aku pikit,

(Kami sebagai kesatuan, akan mengikutiMu!!!)

Mereka merespon dan berlutut di depanku.
Walau jujur saja, mereka benar-benar terlihat seperti kumpulan anjing yang mengantuk dan capek.
Yang terpenting, mereka sepertinya memilih untuk perbudakan.
Jadi... ketika mereka diam-diam aja dari tadi -- mereka lagi sibuk membicarakan ini?
Dan dengan itu, pertarungan di Desa Goblin telah berakhir.

.

Atau itulah yang ingin aku katakan, tapi ini masih belum berakhir!
Apa yang menunggu -- perdamaian dan perbaikan -- adalah yang lebih sulit dari bertarung itu sendiri.
"Siapa yang sudah menyuruh untuk menghancurkan rumah ini!" dan sebagainya...
Apa selanjutnya? Dan, apa yang harus digunakan untuk tempat tidur para goblin?
Dan, siapa yang bakal bawa anjing ini jalan-jalan...
Walau banyak dari mereka yang telah mati, masih ada sekitar delapan puluhan yang tersisa.
Tentang itu... yaa, mari kita bilang aja hari ini udah kelar! Tinggalkan semuanya untuk dipikirkan besok.
Jadi untuk sekarang, aku memerintahkan para anjing untuk berjaga, dan pergi istirahat di api unggun para goblin.

Dan pagi pun tiba.
Aku berpikir sepanjang malam, dan akhirnya mendapatkan ide:
Rencana "Buat goblinnya ngerawat para fang wolfnya!".
Pasukan bertarung goblin berjumlah tujuh puluh empat anggota. Tidak ada korban dari pertarungan.
Ada beberapa yang terluka, tapi itu masih dihitung sebagai luka ringan.
Sisi anjingnya, delapan puluh satu tersisa.
Ada banyak yang terluka, tapi dengan pengobatan yang segera, mereka sudah mulai sembuh.
Bahkan tanpa harus kucampuri, mereka akan segera sembuh. Itulah hebatnya kemambuah penyembuhan mereka.
Setelah bangun, aku membuat para goblin berbaris.
Anak-anak dan orang tua ingin coba mengintip, tapi dengan tidak adanya rumah di sekitar, mereka benar-benar terlihat jelas.
Si kepala desa sedang menunggu di sisiku.
Dia kelihatan bertujuan untuk merawatku, yang mana itu adalah hal yang baik... tapi mana mungkin aku bisa bahagia mendapatkan perhatian dari seorang goblin tua.
Itu semua berdasarkan dari insting estetisku.
Itulah dia, mau berapa kali pun aku bereinkarnasi sebagai monster, seleraku tidak akan pernah pudar!
Dan, dikarenakan sesuatu yang imut tidak ada di desa ini, jadi aku hanya akan menyerah untuk sekarang.
Lalu, aku membariskan pada serigala di depan para goblin.
Baiklah, sekarang...

「Jadi.... kalian. Mulai dari sekarang, aku mau kalian menjadi pasangan dan terus bersama.」

Aku menunggu reaksi mereka.
Akan tetapi, tidak menunjukkan keinginan untuk membuat suara, mereka hanya menunggu untuk instruksi selanjutnya.
Tidak ada yang terlihat tidak setuju dengan keputusanku.
Sejauh ini, semua berjalan lancar.

「Kalian mengerti yang aku katakan, kan? Buatlah kelompok: satu goblin dan satu serigala.」

Ketika aku mengatakan itu,
Para goblin dan serigala duduk bersebelahan dan bertukar pandangan.
Dan,

「Guga!」(Senang bertemu denganmu!)

「Gau!」(Sama-sama!)

Itulah bagaimana cepatnya mereka menjadi akrab.
Inilah yang namanya "Musuh kemarin adalah teman sekarang", aku rasa.
Dan itulah saat aku mendapat pikiran itu.
"Mereka tidak bernama, bukan."
Memanggil mereka akan benar-benar tidak nyaman.
Dan sambil menatap ke pasangan goblin-serigala,

「Kepala desa, benar-benar tidak nyaman untukku memanggilmu. Jadi, aku berpikir untuk memberikanmu nama. Apa itu tidak apa?」

Semua kepala mengarah padaku, dan semua mata tertuju padaku, ketika aku mengatakan kalimat itu.
Semuanya sama untuk warga sipil.

「Ap... apa kau benar-benar ingin menganugerahkan kehormatan itu kepada kami?」

Si kepala desa bertanya, terkagum-kagum.
Hmm? Ada apa dengan kesenangan ini?

「Ah, iya. Jika kau tidak masalah dengan itu, aku berencana untuk memberikanmu nama.」

Di saat aku menyelesaikan kalimatku, layak seperti mereka semua sudah menahan nafas mereka, para goblin berteriak kesenangan.
Ada apa dengan mereka?
Situasi sekarang ini kira-kira: SANGAT KE-SE-NA-NGAN!!!
Jika mereka sangat menginginkan nama, mereka harusnya tinggal memberikannya saja.
Itulah betapa bebasnya diriku pada saat itu.

Mari mulai dengan si kepala desa.
Pertama, aku menanyai nama anaknya. Namanya adalah "Rigur".
Dan jadi, aku menamai si Kepala Desa "Rigur-do", Rigurdo.
Bukan berarti namanya punya arti spesial, aku hanya berpikir itu kedengaran keren.
"Jika anakmu ada disini, aku akan memanggilnya "Rigur!" dan si kepala desa akan menjawab "Do!"..." Ketika aku bercanda seperti itu, dia tiba-tiba menjadi sangat gugup.
Terlebih lagi,

「Untuk bisa dianugerahi dengan nama dari anakku, tolong izinkanlah air mata ini sebagai tanda terima kasih!」

Berlebihan banget dia ini!
Untuk memberikannya nama langsung seperti itu rasanya membuatku merasa bersalah...
Tapi, yaudah lah! Dan perasaan itu langsung pergi.
Mari lanjut, si Pemimpin Goblin akan mewarisi nama abangnya.
Aku bisa saja menambahkan "yang Ke-2", tapi itu jadi terdengar merepotkan. Jadi, sekarang dia "Rigur".
Dan ketika aku memanggilnya begitu, dia langsung bersujud layaknya berdoa kepadaku.
Dasar, nih orang pada menganggap semuanya terlalu serius... gak ayak, gak anak, kurasa.
Dan selagi udah sampai sini, mungkin lebih baik dengan kelompok orang tua-anaknya dulu.
Lalu, aku menamai masing-masing goblin dan juga yang anak yatim.
Aku ingin tau apa mereka akan terus menggunakan nama ini dimasa depan nanti.
Dengan kelahiran cucunya, si kepala desa mungkin akan dipanggil "Rigurdodo". (TLN : Si kepala desa dapet satu "Do" di setiap satu generasi dibawahnya.)
Dan dengan anak dari cucunya, oroknya bakalan dipanggil "Rigur" dan si kepala desa "Rigurdododo".
"Yang bener?" mungkin yang cocok untuk dikatakan, lalu... tapi, yaudah lah!
Dan seperti itu, aku memberi mereka nama.
Lalu, mereka bilang padaku,

「Rimuru-sama, kami tidak punya kata-kata lagi untuk berterima kasih... tapi apa kau yakin kalau ini akan baik-baik saja?」

Si Kepala Desa... Rigurdo menanyakan dengan suara yang sedikit membingungkan.

「Apa itu?」

「Oh, tidak, kami tahu bahwa Rimuru-sama memiliki energi sihir yang hebat... tapi, tetap saja, untuk memberikan nama sebanyak ini secara langsung...」

Apa yang dibicarakannya? Aku hanya memberikan mereka nama...

「Oh? Yaa, gak masalah sih, aku rasa...」

Dan begitulah, aku lanjut memberikan nama.
Sepertinya Rigurdo ingin mengatakan sesuatu, tapi aku tidak perhatikan.

Setelah selesai menamai para goblin, aku lanjut ke serigala.

Pemimpin selanjutnya mereka adalah anak dari pemimpin sebelumnya.
Dia terlihat seperti ayahnya dengan tubuh yang tegap itu, dan memiliki aura yang sama di sekitarnya.
Melihat ke arah mata merah-darahnya, aku memikirkan sebuah nama.
Itu benar! Mari kita beri dengan kanji dari badai taring -- "Ranga"! (TLN : 嵐 (Badai) dibaca ran, dan 牙 (taring) dibaca ga.)
Aku tahu, namaku tidak keren.
Aku hanya mengambil nama keluargaku dan mencampurkannya dengan spesies mereka.
Toh, "Hal yang bagus untuk memberi nama yang layak"... kata-kata itu tidak akan aku dengarkan.

Pada saat itu!

Aku merasa energi sihir dihisap keluar dari tubuhku.
Dan, aku diserang oleh lesu yang luar biasa!
Apa...an nih?
Aku tidak pernah merasa selelah ini sejak dilahirkan kembali.

<<Penjelasan. Anda telah menggunakan energi sihir melampai batas diri anda! Berganti ke mode hemat energi.
Pengembalian total diprediksi dalam tiga hari>>

Aku sadar.
Karena aku tidak butuh tidur.
Aku juga bisa mendengar penjelasan [Great Sage]. Setelah itu, aku akhirnya mengerti dengan situasinya.
Aku menggunakan terlalu banyak energi sihir? Jadi, aku kehabisan MP, ya?
Tetapi, apa penyebab itu terjadi? Apa mungkin semua skill yang aku gunakan sampai sekarang baru terasa sekarang?
Tapi aku merasa sepertinya bukan itu masalahnya.
Tidak bisa menggerakkan tubuhku.
Jadi mode hemat energi itu seperti hibernasi... tanpa tidur.
Sambil kepanikan, Rigurdo merawat tubuhku.
Lagian pun, tidak banyak yang mereka bisa lakukan; jadi, mereka hanya duduk disampingku di api unggun.
Kesadaranku masih belum kembali.

Jadi, aku berpikir tentang fenomena itu.
Energi sihirku berkurang ketika aku memberikan nama.
Memberi nama menggunakan energi sihirku, ya...
Kalau dipikir-pikir, banyak energi sihir yang digunakan ketika memberikan pemimpin fang wolf nama.
Jadi memberi monster nama membutuhkan energi sihir.
Kesimpulan itu membuatku harus istirahat selama dua hari.
Ini mungkin adalah alasan kekhawatiran Rigurdo, ya kan.
Tunggu sebentar... apakah itu hal biasa di dunia ini?
Kasih tau woi!!! Gimana aku bisa tau kalau kau gak kasih tau...
Jika aku bisa protes, aku pasti udah teriak sampai tenggorokanku kering.
Toh, jika aku bisa menggerakkan tubuhku, aku akan komplain.
Teriak sampai tenggorokan kering? Siapa yang bilang begitu?
Tapi yang penting, ketika aku berhenti bergerak para goblin, tentu saja, menjadi khawatir...
Dan, pertarungan pun pecah untuk siapa yang akan duluan merawatku.
Apa-apaan yang mereka lakukan... berhenti bercanda. Aku baik-baik saja tanpa harem goblin.
... Pada dasarnya aku diperlakukan seperti benda pusaka yang akan mendapatkan berkah jika disentuh.

Dan begitulah, tiga hari berlalu.

SEM-BUH TO-TAL!

Setelah kehabisan energi sihir, pengumpulan jumlah energi sihir dan kekuatan sihir kelihatannya sudah meningkat.
Kekuatan sihir mengizinkan kita untuk beroperasi.
Energi sihir adalah apa yang kita pergunakan.
Entah bagaimana, aku merasa sudah merengerti itu. Kurasa.
Jadi singkatnya gini, "Apa yang tidak membunuhmu membuatmu lebih kuat" kira-kira seperti itu.
Haruskah aku bereksperimen? Adalah apa yang aku pikirkan, tapi aku memutuskan untuk tidak melakukannya.
Aku tidak melihat adanya alasan penting untuk melakukan itu, dan mati ketika bereksperimen akan sangat menyedihkan.
Supaya kau tahu, aku sudah pernah melewati garis itu.
"Jika kau tidak waspada, kau mati!" apa yang aku pelajari.
Jadi, sekarang...
Setelah menyadari kalau aku telah bangun, para goblin langsung berkumpul.
Para fang wolf, juga, masuk ke desa.
Itu sih hal yang bagus... tapi, apa-apaan dengan ini...?

「Kalian semua... kalian besar!」

Iya.
Goblin yang biasanya 150 cm. Tetapi, mereka setidaknya 180 cm sekarang.
Pria yang ada di depanku tinggi 2 meter lebih.
Para fang wolf, juga; bulu coklat oliv mereka sudah menjadi hitam pekat, memberikan pesona bersinar.
Terlebih lagi, mereka yang sekarang memiliki panjang tiga meter. Terakhir aku melihat mereka, mereka paling panjang, dua meter.
Dan, dengan diam berjalan ke arah sini, memberikan aura yang aneh, adalah serigala panjang lima meter.
Sialan, itu menakutkan.
Dan,

「Tuanku! Kesembuhanmu membuat diriku sangat bahagia!」

Dengan fasihnya dikatakannya.

... itu gak mungkin... "Ranga", kan?

Apa yang sebenarnya terjadi disini tiga hari ini...
Ketika aku sedang kehilangan kata-kata, para monster memenuhi hutan dengan teriakan gembira!


Status

    Nama: Rimuru Tempest
    Spesies: Slime
    Perlindungan Suci: the Storm Crest
    Julukan: One who Commands Monsters
    Sihir: Tidak ada
    Kemampuan: Skill Unik [Great Sage], Skill Unik [Predator], Skill Khusus Slime [Dissolve, Absorb, Regenerate], Skill Ekstra [Water Manipulation], Skill Ekstra [Magic Perception], Skill yang Diturunkan : Ular Hitam [Heat Detection, Noxious Breath], Kelabang [Paralysis Breath], Laba-laba [Sticky Thread, Steel Thread], Kelelawar [Ultrasound Waves], Kadal [Body Armor], Serigala [Supreme Sense of Smell, Telepathic Communication, Coercion]
    Daya Tahan: Thermal Fluctuation Resistance EX, Physical Attack Resistance, Pain Resistance, Electricity Resistance, Paralysis Resistance



0 komentar:

Posting Komentar