Senin, 25 Desember 2017

Slime - Chapter 16 - Blacksmith Dwarf

(TLN : Udah lama vakuum... akhirnya bisa kembali juga... hmm...  kalau sekiranya cara translate ane beda.. maaf ya...)
Chapter 16 - Blacksmith Dwarf
「Ahh... kenapa aku begitu sibuk...」
Kaijin yang merupakan seorang dwarf, mengeluh pada dirinya sendiri.
Dengan marah dia berpikir , 'Astaga, kekaisaran di timur, mungkin menyerang? Kebodohan macam apa itu!?.
Memang, selama 300 tahun ini merupakan era yang damai.
Kaijin tidak mengerti, mengapa kekaisaran yang begitu kayanya, repot-repot menginvasi negara lain?
Meski untuk dwarf yang satu ini, yang mencari nafkah dengan membuat senjata, mulainya perang seharusnya menjadi kesempatan besar untuk menghasilkan untung besar...
'Tetapi tetap saja, kenapa beban kerjaku meningkat secara tiba-tiba!!!' adalah hal yang dipikirkan dwarf ini.
Apalagi, ada satu hal yang sangat dikhawatirkannya...
Bahkan saat dia mencaci dan berkhayal sedang memukuli seorang pegawai kerajaan, dwarf ini sedang mempertimbangkan masalah lain.
「Apa yang harus aku lakukan...」
Dia menarik nafas lelah saat dia terus berpikir.
Hampir tidak ada waktu tersisa baginya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Melewatkan deadline akan memberi efek besar bagi reputasinya.
Berkata 'aku tidak bisa melakukannya!' sama sekali bukan pilihan.
Saat ini, masa depannya bergantung pada apakah temannya akan datang ketika menerima pesan darinya.
Dia terkebal karena keahliannya sebagai blacksmith (pandai besi), tapi masih ada beberapa hal yang tidak bisa ia lakukan.
Hal yang sangat mengganggunya, adalah kurangnya bahan untuk membuat senjata tersebut!
Dan kemudian orang yang sudah ditunggunya akhirnya hadir dihadapannya.
「Maaf... seharusnya kami sudah sampai dari kemarin, tapi kami mendapat masalah yang diluar kendali...!」
Mengatakan itu, ketiga pria itu masuk ke toko Kaijin.
Mereka ada tiga orang, dan semua merupakan saudara, dan juga ras dwarf. Mereka semua berada di bisnis pertambangan.
Yang tertua Gram. Dia adalah ahli dalam membuat armor.
Yang kedua Dold. Dia dikenal sebagai pengrajin nomor satu.
Anak ketiga Mild. Meskipun dia seorang swarf pendiam, dia merupakan seorang ahli pada apa yang dilakukannya. Memiliki pengetahuan dalam konstruksi, dan berpengalaman dalam seni, dia adalah seorang jenius.
Dalam arti, ketiga orang berbakat ini seharusnya memiliki toko mereka sendiri, tapi sayangnya, mereka agak ceroboh mengenai kehidupan sehari-hari.
Diberkahi dengan bakat dibidang masing-masing, mereka justru tidak tahu apa-apa ketika itu mengenai perencanaan dan transaksi bisnis, itulah mengapa mereka sering ditipu oleh orang sekitar mereka.
Dan jadi, toko mereka diambil alih oleh orang yang mereka percaya, dan ada lagi, mereka bahkan jatuh ke perangkap yang dibuat oleh sesama pemula yang iri dengan bakat mereka, dan berakhir dengan menendang seorang petugas kerajaan dan sekarang berada dalam pengawasan negara...
Tidak ada tempat lagi untuk pergi, mereka memilih untuk mengandalkan Kaijin, yang juga adalah seorang teman masa kecil mereka sekaligus yang tertua di kelompok mereka.
Meskipun dia sendiri sering berpikir sendiri, ‘Kalian harusnya meminta bantuanku dari awal!’, dia juga sadar bahwa sudah sangat terlambat untuk mengatakan itu.
Dia memutuskan untuk menampung ketiga saudaranya ke tokonya dan mengangkat mereka bekerja untuknya. Akan tetapi, tidak ada pekerjaan yang bisa diberikan kepada mereka.
Selagi toko Kaijin yang pada umumnya menjual senjata, barang lainnya dia beli dari penjual lain.
Karena dia membuat sendiri senjatanya, jadi tidak ada masalah mendapatkan bantuan mengenai itu, tetapi... dia takut masalah yang tidak perlu akan muncul jika tokonya tiba-tiba berhenti transaksi dengan penjual lain dan mulai membuat sendiri jirah dan kerajinan lainnya.
Terdapat sebuah kebutuhan untuk melanjutkan bisnis seperti biasa sampai ketiga saudara ini mapan. Inilah mengapa dia menugaskan ketiga saudara untuk mengawasi pekerja dalam mengumpulkan bijih besi dan bahan mentah lainnya.
Setelah mendengar keadaan mereka, dia menemukan bahwa mereka telah bertemu demon*. Kaijin sangat bingung disini. Meskipun demikian, keselamatan mereka adalah sesuatu yang patut disenangi.
*TLN : Sengaja ane buat demon karena bingung nerjemahinnya... Demon... Devil... Ampir sama artinya
Berpikir betapa beruntungnya mereka bisa terhindar dari cidera, dia menyuarakan rasa leganya.
Yaa, hal yang baik bahwa kalian selamat! Kalian pasti sudah melarikan dengan sangat baik. Syukurlah tidak ada dari kalian yang terluka!
Memang, selama mereka baik-baik saja, selalu ada kemungkinan untuk kembali mengumpulkan bijih besi yang dibutuhkan.
Tapi ketika dia berpikir sendiri, ‘Keselamatan teman-temanku adalah yang lebih penting!’, ketiga saudara saling bertukar wajah canggung satu sama lain.
Mereka berkata,
Tidak... ini bukannya seperti kami lolos tepat waktu.
Mm. Kalau boleh jujur, bahkan sekarang pun aku masih tidak bisa menyimpulkan dengan apa yang terjadi kemarin...
......
Ketiga saudara terdiam.
Dari situlah, dia mendengarkan apa yang dijelaskan mereka mengenai yang terjadi secara detail.
Mereka mengaku, ‘Slime misterius memberikan mereka ramuan yang membuat mereka kembali hidup!’.
Biasanya, dia hanya akan tertawa sambil menjawab, ‘Aku tidak percaya itu!’, tapi dia tahu bahwa ketiga saudara tidak suka berbohong. Atau lebih tepat, mereka hanya tidak cukup mahir dalam berbohong. Dan itu artinya apa yang mereka katakan adalah benar...
Akan tetapi, melihat baru saja kemarin demon menyerang yang menyebabkan korban, mempekerjakan penambang baru kelihatannya mustahil.
Disebabkan kejadian kemarin, orang-orang yang dia sewa berhenti satu persatu. Karena mereka juga mendapatkan luka yang cukup serius, dia tidak bisa mengeluh.
Dalam kasus biasa, ini merupakan waktu yang tepat untuk pergi ke Asosiasi Terbuka* dengan permintaan, tapi itu bukanlah pilihan.
*TLN : Freedom Association... sebelumnya Asosiasi Kebebasan :v
Dia sudah mengajukan permintaan untuk pengumpulan bijih besi, tapi masih belum ada balasan. Ini merupakan hal yang sama yang terjadi pada setiap toko lainnya, dan begitulah persediaan barang di pasar menurun drastis.
Dalam hal menyewa penjaga, tidak hanya bayarannya yang akan menjadi lebih mahal, mereka hanya mau bekerja sesuai dengan isi permintaan saja.
Jika kau meminta untuk dikawal, mereka hanya akan melakukan itu dan tidak kebih...
Dan jika itu mengenai harga petualang yang mampu mengalahkan demon kelas B... itu malah tidak ada baiknya. Jangan mendapat untung, yang ada dia malah menjadi rugi.
Dia berpikir sendiri, ‘ Tch! Kenapa demon yang kuat itu harus muncul di area luar pertambangan!’.
Kaijin menghela nafas dengan berat.
Tenggang waktu semakin mendekat. Dia bahkan sampai mempertimbangkan untuk mengumpulkan semua bijih besi itu dengan tangannya sendiri.
Tapi tidak ada ide bagus muncul di kepalanya, dan waktu tersisa sedikit...
Keempat kurcaci itu hanyut dalam pikiran mereka sambil menatap satu sama lain.
Dan pada saat itulah kelompok aneh masuk ke jarak pandang.
POV Rimuru
Hei! Aniki*, kau disana?
*TLN : Abang laki-laki.
Sambil memanggil seseorang yang ada di dalam, abang Kapten, yang sekarang dikenal sebagai Kaidou-san, memasuki toko.
Di tengah-tengah percakapan kami, kami menjadi lebih terbuka dan dekat satu sama lain, dan sekarang memanggil dengan nama depan masing-masing. Aku diberi tahu bahwa pemilik toko ini, orang yang mau dikenalkannya kepadaku, adalah abang kandungnya.
Dari tampilan luar, ini terlihat seperti toko kecil yang dijalankan oleh paman tua yang keras kepala.
Permisi~!
Sapa Rimuru.
Bagaimana kabarmu!
Sapa Gobuta-kun.
Mengatakan itu, kami mengikuti Kaidou-san ke dalam toko.
Disaat kami masuk, kami melihat ada banyak mata yang fokus ke arah kami.
Ah!
Ketiga saudara kurcaci terkejut secara bersamaan.
Ketiga kurcaci yang aku lihat kemarin terkejut semua dan melihat ke arah sini. Mereka terlihat sehat sekarang. Meskipun untuk beberapa alasan mereka membuat wajah depresi...
Dan setelah itu pastinya, seperti dugaan, terdapat paman dengan tampang suram yang wajahnya tidak kalah sedikitpun dengan salah satu paman pekerja bangunan yang menakutkan di kota. Dia adalah pemilik toko ini.
Jujur saja, dia tidak mirip dengan Kaidou-san sama sekali.
belum selesai...